
Sejak awal proyek uprak drama tentang P.K. Ojong, semuanya terasa belum benar-benar matang. Alur cerita masih berubah-ubah, transisi antaradegan belum jelas, bahkan beberapa bagian direvisi di tengah latihan. Bagi saya yang masuk dalam sie choreography, make up, pemeran kecil di banyak scene, sekaligus pembawa sinopsis dalam empat bahasa, kondisi ini membuat proses terasa jauh lebih berat dan membingungkan.
Sebagai sie choreography, saya sangat bergantung pada alur cerita. Gerakan tarian harus selaras dengan suasana dan pesan setiap adegan. Namun ketika alurnya belum stabil, saya pun kesulitan menentukan konsep gerakan. Pernah ada penambahan scene secara mendadak, dan dalam waktu yang sangat singkat saya harus membuat choreography baru. Rasanya panik karena membuat tarian bukan sekadar menyusun gerakan, tetapi juga menyatukan emosi, tempo, dan makna. Apalagi drama ini menceritakan perjuangan P.K. Ojong dalam mendirikan Kompas, yang penuh keteguhan dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran. Gerakan yang dibuat tidak boleh sembarangan; harus tetap mencerminkan semangat perjuangan itu.

Tantangan berikutnya adalah mengajarkan tarian tersebut kepada teman-teman. Tidak semua orang mudah menangkap gerakan, dan kadang fokus mereka terpecah. Saya harus mengulang berkali-kali, memperlambat tempo, dan mencoba berbagai cara agar gerakan bisa masuk. Ada rasa lelah dan frustrasi ketika waktu latihan terbatas tetapi kekompakan belum juga tercapai. Di satu sisi saya ingin hasilnya maksimal, di sisi lain saya harus menahan emosi dan tetap sabar. Di situ saya benar-benar merasakan tekanan sebagai bagian dari tim yang bertanggung jawab atas visual panggung.
Selain itu, saya juga muncul di banyak scene sebagai pemeran kecil. Artinya, setelah mengatur choreography, saya tetap harus siap tampil. Tantangan terberat adalah pergantian kostum yang sangat cepat. Selesai satu adegan, saya harus segera lari ke belakang panggung, mengganti baju, memastikan make up tetap rapi, lalu bersiap masuk lagi ke adegan berikutnya. Waktunya sering kali sangat singkat. Kadang belum sempat duduk atau minum, sudah dipanggil masuk lagi. Rasanya benar-benar menguras tenaga, baik fisik maupun mental.
Belum cukup sampai di situ, saya juga dipercaya menjadi pembawa sinopsis dalam empat bahasa, dan saya dipilih untuk membawakannya dalam bahasa Mandarin. Bagi saya, itu adalah kehormatan sekaligus tantangan besar. Berbicara di depan banyak orang sudah menegangkan, apalagi menggunakan bahasa asing yang harus jelas pelafalannya dan tidak boleh salah. Saya harus berlatih pengucapan, intonasi, dan kepercayaan diri. Ada ketakutan jika saya salah ucap atau kehilangan fokus di tengah kalimat. Namun di sisi lain, saya merasa ini kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan tanggung jawab yang diberikan kepada saya.

Selama proses uprak ini, keluh kesah tentu ada. Lelah karena banyak peran, bingung karena alur yang belum matang, tertekan karena harus membuat choreography dalam waktu singkat, dan gugup karena membawakan sinopsis dalam bahasa Mandarin. Ada momen di mana saya merasa kewalahan, seolah-olah semua tugas datang bersamaan tanpa jeda. Namun perlahan saya menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari proses pembelajaran.
Kisah P.K. Ojong yang tidak menyerah dalam memperjuangkan kebenaran menjadi refleksi tersendiri bagi saya. Ia menghadapi hambatan besar dalam hidupnya, tetapi tetap teguh dan rendah hati. Dalam skala yang jauh lebih kecil, saya pun belajar untuk tidak menyerah dalam tekanan uprak ini. Saya belajar mengatur waktu, mengendalikan emosi, beradaptasi dengan perubahan, dan bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan.
Pada akhirnya, pengalaman ini mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah pementasan bukan hanya tentang siapa yang paling terlihat di panggung, tetapi tentang kerja keras di balik layar, tentang ketahanan menghadapi perubahan, dan tentang keberanian mengambil peran meskipun terasa berat. Uprak ini mungkin melelahkan, tetapi juga membentuk saya menjadi lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih siap menghadapi tantangan berikutnya.
