Dokumentasi Ujian Praktek Vincentius Yogiswara Wisnu Aji XII-A3 / 33

Kalau melihat foto ini, saya teringat betapa panjang proses yang harus dilewati sebelum layar itu menyala dan panggung XIIA3 menjadi hidup. Di UPRAK kali ini, saya memegang dua tanggung jawab yang cukup berat. Saya bertugas sebagai penulis naskah yang menyusun alur cerita, sekaligus harus memerankan sosok Frans Seda di depan penonton. Ini adalah pengalaman tentang bagaimana sebuah ide di atas kertas perlahan berubah menjadi emosi yang nyata di lapangan.

Sebagai penulis naskah, tugas saya dimulai dari lembaran kosong. Menulis naskah ternyata bukan cuma soal merangkai kata agar terdengar bagus, tapi bagaimana membangun pondasi supaya setiap adegan punya nyawa. Saya ingat betul rasanya kewalahan saat latihan karena naskah harus terus direvisi. Kadang durasinya kepanjangan, atau pesannya terasa kurang sampai ke hati. Tantangan terbesarnya adalah menyatukan visi teknis dengan perasaan teman-teman yang memerankannya. Tapi rasa lelah itu langsung terbayar saat saya sendiri harus berdiri di panggung sebagai Frans Seda. Memerankan tokoh ini memberi saya sudut pandang baru. Saya tidak lagi cuma menulis dialognya, tapi saya harus benar-benar merasakan beban dan semangat yang beliau bawa.

Salah satu momen yang paling menguras emosi saat menyusun naskah ini adalah bagian monolog P.K. Ojong di akhir cerita. Saya mencoba membayangkan rasa rindu yang sangat dalam, sebuah perasaan yang tenang tapi sangat kuat. Saat saya berdiri di panggung sebagai Frans Seda dan mendengar monolog itu menggema, ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Di situ saya sadar bahwa kata-kata yang saya susun bersama tim sudah menjadi napas bagi pertunjukan ini. Kami berhasil menciptakan ruang bagi penonton untuk melihat sisi manusiawi dari para tokoh sejarah ini.

Pada akhirnya, saya belajar bahwa sebuah karya yang bermakna lahir dari kerja keras yang sering kali tidak terlihat oleh mata. Meskipun peran saya sebagai penulis ada di balik layar, kebanggaan terbesar saya adalah ketika dialog yang saya buat dan karakter Frans Seda yang saya perankan bisa menyentuh perasaan orang lain. Menjadi bagian dari XIIA3 dalam peran ganda ini mengajarkan saya bahwa setiap kata dan setiap gerak adalah bentuk pengabdian untuk menghidupkan sejarah agar tetap terasa dekat dengan kita sekarang.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *