
Sejak dulu saya adalah orang yang enggan untuk berkorban demi orang lain. Tetapi lewat ujian praktik, kali ini saya mulai bertanya tanya apa itu arti pengorbanan? Mungkin bagi sebagian orang menganggap bahwa berkorban hanya dengan jiwa, lewat praktikum umum yang sudah saya lewati saya menyadari bahwa terdapat makna yang mendalam dari sebuah kata pengorbanan.
Pada ujian praktik kali ini saya dipercaya oleh teman-teman sekelas untuk menjadi koordinator sie make up, anggota sie musik, MC (Master of Ceremony), dan juga menjadi pemeran dalam drama yang berjudul “P. K Ojong: Kompas of Truth”. Pada awalnya saya sangat bahagia karena dapat dipercaya untuk mendapat tugas-tugas tersebut tetapi seiring berjalannya waktu saya mulai terbebani dengan banyaknya tuntutan pekerjaan yang akan saya lakukan pada hari H dan selanjutnya. Dalam pelatihan dan gladi-gladi kotor saya merasa kurang puas dengan penampilan kami, saya merasa kami belum menemukan chemistry yang ada dalam pemeran ataupun koordinator koordinator yang memimpin dalam pelatihan pelatihan kami. Pada pelaksanaan pelatihan di luar sekolah seringkali banyak anak anak yang tidak ijin tidak mengikuti pelatihan yang disebabkan oleh berbagai macam alasan, ini membuat saya berpikir bahwa anak-anak ini tidak menganggap ujian praktik ini seserius itu. Bahkan hingga sutradara marah sekalipun anggota-anggota kami masih belum memiliki kesadaran penuh akan tugas dan tanggung jawabnya.
Seiring berjalannya waktu, kami mulai merasa ada kedekatan di antara anggota kelas kita. Buruknya performa saat gladi kotor dan penampilan-penampilan yang lancar dari kelas lain, mungkin memunculkan sebuah kesadaran dari masing-masing anggota ujian praktik ini bahwa kelas kami sangat tidak siap untuk menghadapi penilaian kali ini. Saya yang awalnya hanya berfokus kepada tanggung jawab saya sendiri, menjadi prihatin dan kecewa dengan kondisi kelas kami berserta koordinatornya. Dengan inisiatif saya, saya memutuskan untuk ikut serta dalam meeting yang diadakan sutradara dan koordinator lainnya. Saat meeting kami menonton ulang hasil gladi kotor yang telah dilaksanakan dan saya merasa sangat kosong dan tidak puas akannya. Pada saat itu H-5 dan saya dengan kesadaran penuh memutuskan untuk menambah scene dan properti properti yang lumayan besar untuk dikerjakan kelas kami. Saya menambah satu adegan drama musikal oleh aparat-aparat, saya memiliki kepercayaan yang sangat besar kepada mereka, tetapi pada pelaksanaannya ternyata tidak semudah itu. Aparat-aparat yang kami tunjuk untuk menyanyi ternyata adalah orang orang yang buta nada, karena waktu kami terdesak dan tidak memiliki pilihan lain saya memutuskan untuk melatih mereka secara pribadi bersama salah satu sutradara. Saya bersama sutradara melatih mereka hingga jam 11 malam di saat hari efektif sekolah. Selain itu beberapa dari kami hingga menginap di salah satu rumah sutradara untuk mengerjakan properti yang baru ditambahkan.
Tibalah hari H ujian praktik, kami semua sangat tegang dan gugup sebelum pelaksanaannya. Saya melakukan pemanasan bagi mereka yang menyanyi saat drama. Tak hanya melatih, saya juga memimpin dalam merias pemeran pemeran yang membutuhkan riasan pada pagi itu dengan bantuan anggota-anggota make up lainnya. Jujur saja tak terpikirkan oleh saya akan tampil pada hari itu karena waktu terbang begitu cepat. Melalui segala drama dan tangisan yang terjadi pada pelatihan drama ini, saya merasa semua waktu dan tenaga yang saya limpahkan kepada ujian kali ini tidak ada yang sia-sia. Segala ujian dan tugas yang saya korbankan, tidak ada yang dapat menggantikan kebahagiaan saya saat kami sekelas menyaksikan diri kami tampil di panggung Lazaris Hall pada 12 Februari 2026. Ujian praktik ini mengajarkan saya bahwa hal yang paling berharga bukanlah waktu yang saya habiskan untuk diri saya sendiri, melainkan waktu yang saya habiskan untuk membuat memori yang tak terlupakan bersama orang orang yang paling saya kasihi. Berkorban bukanlah hal yang menyedihkan namun berkorban adalah wujud cinta dan ketulusan yang paling indah yang dapat dialami seseorang.