Refleksi Pagelaran Karya

Sebagai scriptwriter aku merasa bersalah karena tidak menyelesaikan script tepat waktu. Kami awalnya kesulitan untuk menggali kisah P. K. Ojong yang dapat dijadikan bahan drama kami. Kurangnya kerja sama antara scriptwriter juga menjadi faktor utama mengapa script tidak dapat diselesaikan tepat waktu. Ditambah pengerjaan script drama adalah ketika di bulan ujian. 

Untungnya, kami scriptwriter dapat melewati tantangan tersebut. Kami menyadari kesalahan kami, hingga kami saling bekerja sama untuk segera menyelesaikannya. Juga berkat bantuan semua orang, script yang kami buat dapat selesai. Aku bersyukur mempunyai orang-orang seperti itu di kelasku, yang dapat membantu dan memberi saran pada kami, para scriptwriter, meskipun kami yang seharusnya menyelesaikannya. Harapan kami, script P. K. Ojong yang kami buat dapat menjadi pembelajaran bagi penonton. Dimana lebih baik dibenci karena mengatakan kebenaran daripada dicintai karena kebohongan.

Namun, karena keterlambatan penyelesaian script, kami harus melakukan latihan yang lebih ekstra dibandingkan kelas lain, untuk mengejar keterlambatan kami. Marvell City, studio kecil lainnya, maupun dojo, kami latihan di tempat yang sekiranya dapat digunakan untuk latihan Uprak. Latihan kami lakukan sampai pukul 19.00.

Perjalanan kami selama Uprak adalah momen yang tak bisa kulupakan. Latihan sampai malam terasa melelahkan, namun setelah Uprak selesai, entah mengapa aku merindukan hal tersebut. Aku belajar bahwa yang membuatku merindukan hal tersebut bukanlah tempat latihan atau Uprak itu sendiri. Melainkan orang-orang yang ada. Sekarang perpisahan hanya tinggal menunggu waktu. Namun, waktu itu yang akan kuhargai berkat adanya Uprak.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *