
Pemeran Utama : P. K. Ojong
Perjalanan uprak drama tentang P.K. Ojong dimulai dari sebuah penunjukan yang jujur saja membuat saya terkejut. Saya dipilih menjadi pemeran utama. Awalnya, saya tidak merasa siap. Saya tidak percaya diri, merasa banyak teman lain yang lebih pantas. Membawakan tokoh sebesar P.K. Ojong bukan hal kecil. Ia adalah pendiri Kompas, sosok yang dikenal karena keteguhan dan keberaniannya dalam memperjuangkan kebenaran. Saya takut tidak bisa menghidupkan karakter yang penuh wibawa dan prinsip itu.

Latihan awal berjalan cukup biasa. Kami masih membaca naskah, mencoba memahami alur, dan membagi peran dengan penjiwaan yang belum terlalu dalam. Suasana kelas kadang masih santai, bahkan kurang fokus. Beberapa teman belum sepenuhnya serius, sehingga latihan terasa kurang efektif. Di titik ini, saya mulai merasakan tekanan. Sebagai pemeran utama, saya merasa memiliki tanggung jawab lebih untuk menjaga alur tetap hidup. Namun di sisi lain, saya sendiri masih berjuang melawan rasa tidak percaya diri.
Memasuki satu minggu sebelum hari tampil, latihan menjadi jauh lebih intens. Kami berlatih hampir setiap hari. Waktu istirahat terasa lebih singkat, tenaga mulai terkuras, dan emosi semakin terlibat. Saya mulai lebih menghayati peran P.K. Ojong—cara berbicara yang tegas namun tenang, sikap yang rendah hati tetapi kuat dalam prinsip. Saya mencoba memahami perjuangannya mendirikan Kompas di tengah berbagai tekanan. Dalam proses itu, saya justru melihat refleksi diri saya sendiri. Seperti beliau yang menghadapi hambatan tetapi tidak menyerah, saya pun harus belajar bertahan dalam tekanan latihan dan dinamika kelompok.
Tiga hari sebelum tampil menjadi titik balik yang sangat penting. Saat itu, kami semua mengeluarkan isi hati dan hal-hal yang selama ini terpendam. Ada yang merasa tidak dihargai, ada yang merasa lelah, ada yang sebenarnya ingin serius tetapi bingung harus mulai dari mana. Suasana menjadi emosional, tetapi justru dari situ lahir kejujuran. Kami saling mendengarkan tanpa menyalahkan. Momen itu membuat kami tersadar bahwa jika ingin drama ini berhasil, kami harus benar-benar menjadi satu tim. Setelah hari itu, suasana latihan berubah drastis. Kami menjadi lebih serius, lebih fokus, dan lebih menghargai satu sama lain.
Akhirnya, tibalah tanggal 12 Februari—hari kami tampil, sekaligus hari ulang tahun saya. Awalnya saya tidak terlalu memikirkan kebetulan itu, tetapi ketika berdiri di belakang panggung sebelum tampil, saya menyadari betapa bermaknanya hari tersebut. Bukan hanya bertambah usia, tetapi juga bertambah pengalaman dan kedewasaan. Ketika saya melangkah ke panggung sebagai P.K. Ojong, rasa takut yang dulu ada perlahan tergantikan oleh kesiapan. Saya tidak lagi merasa sendirian, karena saya tahu di belakang saya ada tim yang sudah berjuang bersama.
Penampilan hari itu bukan sekadar pementasan drama. Itu adalah hasil dari proses panjang—dari keraguan, kelelahan, konflik, kejujuran, hingga persatuan. Saya belajar bahwa menjadi pemeran utama bukan hanya tentang tampil paling depan, tetapi tentang bertanggung jawab, bertahan dalam tekanan, dan tetap rendah hati. Dari P.K. Ojong saya belajar tentang mati raga dan kerendahan hati; dari tim saya belajar tentang pentingnya komunikasi dan kebersamaan.
Tanggal 12 Februari akhirnya menjadi lebih dari sekadar ulang tahun. Itu menjadi simbol perjalanan saya—dari tidak percaya diri menjadi lebih siap, dari terpecah menjadi satu, dan dari sekadar memainkan peran menjadi sungguh-sungguh menghidupi maknanya.